Orangtua Harus Lebih Peka Remaja Alami Emosi Negatif Selama Pandemi

Orangtua Harus Lebih Peka Remaja Alami Emosi Negatif Selama Pandemi

Studi yang ada mengindikasikan bahwa anak-anak pun juga mengalami stres, sedih, takut, dan tidak bahagia di masa pandemi ini.

Dream - Anak-anak termasuk kumpulan yang sangat rentan secara psikologis dalam kondisi pandemi laksana sekarang. Mereka tak dapat sekolah, bermain dengan bebas yang paling dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya, belum lagi merasakan kegelisahan dari orang sekeliling sebab pandemi.


Tak sama tentunya orang dewasa, ketika anak tertekan, stres, khawatir atau situasi psikologisnya tak stabil, ia bakal kebingungan. Sikapnya jadi paling berbeda, barangkali jadi susah diatur, enggan berkomunikasi, lebih suka menyendiri namun tak dapat menggambarkan perasaannya secara gamblang.


Untuk tersebut dalam kondisi sekarang diperlukan kepekaan dari orangtua untuk mengetahui perasaan anak. Dwi Hastuti, Kepala Divisi Perkembangan Anak Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (IKK-Fema), IPB University menyatakan dalam kondisi pandemi seperti kini orangtua dapat menerapkan pengasuhan authoritative.


Gaya pengasuhan ini dinilai sangat ideal sebab seimbang antara kasih sayang, ekspresi emosi positif (responsiveness) orang tua dengan tuntutan disiplin (demandingness) dari orangtua. Ayah dan ibu pun juga harus konsisten untuk menyerahkan kasih sayang, perhatian, penjelasan, berkomunikasi positif, serta tuntutan ketentuan yang jelas pada anak.


“ Pada waktu sulit, orangtua mesti paling sensitif, sebab studi yang ada mengindikasikan bahwa anak-anak pun juga mengalami stres, sedih, takut, dan tidak bahagia di masa pandemi ini,” ungkap Dr. Dwi.


Penting membina lingkungan family yang kondusif, sarat kehangatan, rasa saling menghormati, dan saling percaya antara pasangan suami istri. Berdasarkan keterangan dari Dr. Dwi, urusan tersebut adalah kunci kebahagiaan family yang diperlukan buah hati, sebab anak ialah “ sang peniru ulung”.


“ Kondisi lingkungan family yang harmonis ialah dasar utama pembentukan anak, sampai-sampai keluarga dapat memberikan Attention-Bonding-Communication (ABC of parenting), yang disertai dengan Role Modelling (keteladanan) guna menumbuhkan anak-anak berkualitas,” jelasnya.


Dr. Dwi pun juga telah mengeluarkan hasil riset tentang persepsi remaja terhadap spiritualitas dan penyesuaian orangtua sekitar pandemi COVID-19 di Indonesia. Hasil risetnya mengungkap bahwa dari remaja dari sekian banyak latar belakang sosio-demografik yang dilibatkan, sejumlah 72,26 persen remaja menikmati emosi negatif dan 23,79 persen menikmati emosi positif sekitar pandemi.


Emosi positif tersebut berhubungan secara signifikan dengan spiritualitas orangtua yang lebih tinggi, sementara spiritualitas tersebut dominan positif terhadap penyesuaian orangtua terlepas dari latar belakang sosio demografi remaja. Penting untuk orangtua guna mempraktikkan gaya pengasuhan yang lebih baik dalam dimensi spiritual.


Selalu ingat #PesanIbu guna selalu membasuh tangan, menggunakan masker, dan mengawal jarak guna pencegahan virus COVID19. Jika tidak, anda akan kehilangan orang-orang tercinta dalam masa-masa dekat.


Cegah Kluster Keluarga, Satgas Covid-19 Ingatkan yang Sering Keluar Rumah

Penyebaran permasalahan Covid-19 sekarang mulai tidak sedikit di kalangan keluarga. Mulai dari ayah, ibu, anak, kakek, nenek bahkan sampai bayi yang baru lahir dapat tertular COvid-19 andai salah satu penghuni lokasi tinggal tak menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin.


Mengapa kluster keluarga dapat terjadi? Berdasarkan keterangan dari dr. Dewi Nur Aisyah, anggota Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 dalam acara bincang-bincang " Ragam Cluster di Indonesia" bareng dr. Lula Kamal mengungkap bila sumber kluster kelaurga ialah mereka yang sangat sering beraktivitas di luar rumah.


" Sumber penularan di keluarga yakni yang sangat sering terbit rumah, bekerja di luar. Satu bawa virus semua dapat kena," ujar dr. Dewi, Rabu 30 September 2020.


Untuk itu untuk Sahabat  yang darurat harus terbit rumah, pastikan mengenakan masker. Hindari kerumunan. Jika mesti melakukan pembelian barang bahan keperluan dan lokasi pasar lumayan ramai, dr. Dewi merekomendasikan guna mengenakan masker medis.


" Bagi masker kain tiga lapis, turunkan risiko 45 persen. Masker medis atau masker bedah, dapat turunkan risiko penularan sampai 70 persen," ungkap dr. Dewi.


Disiplin dengan Protokol Kesehatan

Saat terbit rumah, tidak jarang kali ingat bila risiko tertular di depan mata. Cegah dengan disiplin memakai masker. Selalu bawa hand sanitizer ke mana juga* dan jaga jarak dengan orang beda serta hindari kerumunan.


Sesampainya di rumah, tidak boleh langsung kontak dengan anggota keluarga. Ganti pakaian, taruh barang bawaan di luar rumah. Disinfektan barang pribadi, mandi dan keramas.


" Usahakan guna kurangi kegiatan kegiatan di luar sebab ada risiko yang dibawa kembali ke rumah. Jangan jalan-jalan di lokasi yangg sarat keramaian. Jika terdapat tamu ke lokasi rumah baik saudara dekat atau rekan tetap jalani protokol kesehatan, cuci tangan, jaga jarak," pesan dr. Dewi.


Ramai Kluster Covid-19 Saat Rapat, Cegah dengan Cara Ini

Tak seluruh kantor dapat menerapkan sistem bekerja dari lokasi rumah secara efektif dan efisien. Tatap muka kerap diperlukan untuk koordinasi dan pemungutan keputusan yang paling penting.


Dalam kondisi pandemi Covid-19 rapat di kantor tetap dapat dilakukan asalkan dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat. Hal ini demi mengayomi seluruh karyawan, tergolong keluarganya dari risiko penularan Covid-19.


Dokter Dewi Nur Aisyah, di antara tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 dalam talkshow bareng dr. Lula Kamal, mengingatkan semua karyawan yang mesti rapat di kantor kenakan masker dan jaga jarak.


" Tetap jaga jarak, take away makanan, snack tidak boleh dimakan pas rapat, lagipula makan bareng-bareng di ruangan. Kalau makwn kan masker mesti ditanggalkan dan ini menambah risiko. Lebih baik tidak usah," kata dr. Dewi.


Jangan Copot Masker

Ia pun juga mengingatkan baik atasan maupun karyawan yang rapat guna mengenakan masker yang nyaman dan mudah berkata saat dikenakan. Jangan buka masker tidak banyak pun ketika rapat sebab sangat berisiko.


" Masker gak boleh copot, pilih masker yang suara tetap tersiar jelas ketika dipakai. Kalau gunakan mic, tiap orang satu, semprot lagi gunakan hand sanitizer. Segera sesudah rapat cuci tangan sering-sering," ungkap dr. Dewi.


Risiko penularan Covid-19 di dalam ruangan ingin sangat tinggi. Ruang kantor dan lokasi rapat ingin tertutup dan udara berputar sebab AC sampai-sampai virus lebih gampang menyebar. Bagi itu, ketika di mesti ke kantor, menghadiri rapat masker mesti dikenakan. Rutin memancar disinfektan juga dapat dilakukan guna pencegahan.


Sekian semoga bermampaat ya.

Posting Komentar

0 Komentar